Yang Saya Dapatkan Minggu Ini


Ini hal-hal masih kepikiran sama saya sebagai hasil dari kuliah yang saya dapet minggu ini :

1. Teori Feminisme
Di Pengantar Sosio kemaren ngebahas jenis kelamin dan gender. Sebelumnya kuis dulu. Kayanya kuis gue nilainya sama aja kaya yang kemaren-kemaren. Kenapaaa sih, plis sekaliii dong gue pengen dapet 100 hiks~

Salah satu sub pokok bahasannya tentang diskriminasi gender. Gara-gara itu muncul gerakan feminisme yang menuntut persamaan derajat dengan pria, yah kurang lebih sih gitu. Sebelum belajar ini gue udah tau gerakan feminisme, tapi yang baru gue tau adalah kalo feminisme ada macem-macem, dari yang liberal, sosialis, dan radikal. Yang radikal ini agak ekstrem rupanya sodara-sodara, karena tuntutannya menuntut agar diberikan kebebasan seksual, misalnya bebas menentukan mau hamil atau engga, mau jadi ibu rumah tangga apa berkarir, atau bebas menentukan maunya sama yang sejenis apa yang beda jenis. 
Yah sekali lagi, sosiologi itu bukan men-judge sesuatu itu benar atau salah, tetapi hanya menunjukkan fenomena yang terjadi di lapangan. Terus ada temen gue yang nanyain apakah gerakan feminisme ini masih relevan dengan saat ini di Indonesia, karena rasanya perempuan dan laki-laki udah setara deh. Bahkan di Indonesia udah ada presiden perempuan, menteri perempuan, CEO perempuan, dan blablabla yang perempuan. Masa masih mau bilang ada diskriminasi gender? 

Gue juga setuju sih sama pertanyaan temen gue itu. Hmm gimana ya, kalo kata gue sih yang namanya pembedaan perlakuan antara laki-laki sama perempuan pasti ada, ga mungkin diilangin. Jadi gue setuju sama pendekatan struktural yang bilang kalo pembedaan gender itu diperlukan untuk mencapai keseimbangan masyarakat.Contohnya waktu SMA, kalo disuruh lari keliling lapangan, yang cewe pasti lebih dikit larinya daripada yang cowo, karena emang otot cowo lebih banyak 10 persen dari cewe. Kalo menuntut kesetaraan gender, lah masa iya ntar yang cowo disuruh lari keliling lapangan 10 kali dan yang cewe juga harus 10 keliling? 
Terus hal-hal kaya misalnya lagi naik angkot, kalo angkotnya dalam kondisi penuh dan tinggal 1 tempat duduk di pinggir yang kosong, terus ada perempuan naik dan dia duduk di pinggir itu. Biasanya sih penumpang angkot laki-laki yang udah naik duluan bakal ngalah dan gantian duduk di pinggir. Atau kalo jalan di trotoar, biasanya yang laki-laki jalannya di sebelah yang deket jalan raya. Sepele sih, yah tapi rasanya kalo hal itu udah ga ada lagi kan gimanaa gitu.

2. Korupsi, kapan abisnya?
Nah kalo ini gue dapet "pencerahan" dari kelas Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Ilmu Administrasi Negara. Kalo kata dosen politik gue, dalam waktu dekat ini korupsi emang sulit dibasmi, karena orang-orang yang sekarang lagi duduk di pemerintahan adalah orang-orang yang tumbuh di jaman orde baru. Maksudnya gini, kan waktu jaman orba tuh korupsi merajalela dan dibuat semacam doktrin kalo yang namanya korupsi tuh emang menjadi suatu hal yang wajar. Dari lapisan atas sampe ke bawah tuh pasti korupsi deh. Nah karena dibentuk dalam situasi budaya politik yang seperti itu, jadilah para petinggi saat ini yang kebanyakan berperilaku korup. Mereka masih punya pemikiran kalo era reformasi ini masih kaya era orba yang "mengesahkan" korupsi. Padahal, di era reformasi ini masyarakat udah kritis dan berani melakukan perlawanan terhadap korupsi, ga kaya jaman orba yang sekali mengkritik terus besoknya udah ilang gatau kemana. 

Dalam ilmu politik ada yang namanya fast moving institution dan slow moving institution (kalo ga salah). Fast moving institution adalah lembaga-lembaga negara saat  ini yang udah engga mengganggap korupsi sebagai hal yang wajar. Jadi lembaga negara beserta sistemnya udah maju. Sementara yang slow moving institution itu budaya politik para oknum yang ada di pemerintahan yang masih menganut budaya korupis yang jadul atau "jahiliah". Makanya, gara-gara antara hardware dan softwarenya yang ga kompatibel inilah yang bikin korupsi rasanya udah banyak ditangani, tapi selalu muncul lagi yang baru.       

Terus ada satu hal yang bikin gue seneng. Kata dosen gue, ada wacana Indonesia akan maju sekitar tahun 2045 karena kira-kira di tahun segitu, orang-orang yang lahir pasca orde baru akan menduduki posisi-posisi pemerintahan, which is itu adalah tahun lahir gue gyahaha~ #plak
Kenapa begitu? Soalnya orang-orang yang lahir pasca orde baru atau di akhir masa pemerintahan orde baru itu engga ngerasain orde baru dan ga dicekokin doktrin-doktrin ala orba, sehingga budaya politik mereka cenderung lebih maju, fresh, dan fleksibel. Ayoo yang merasa lahir di akhir jaman orba, semangat masbroh!

Itu diliat dari sudut pandang administrator. Kalo kata dosen PIAN gue, korupsi dalam pemerintahan Indonesia itu banyak karena secara sistem pemerintahan Indonesia sendiri itu mendorong untuk korupsi. Beliau ga menjelaskan lebih detail soalnya kita belum dapet matkul Sistem Pemerintahan Indonesia, jadi beliau cuma ngasih gambaran sekilas. 
Beliau ngasih contoh begini, misalnya dalam Kementrian X yang mau ngadain pelatihan, pasti butuh biaya dong. Katakan biayanya butuh 100. Terus, biasanya tiap kementrian itu punya yang namanya SBU atau Standar Biaya Umum (kalo ga salah) untuk bikin-bikin acara. SBU itu ditentukan berdasarkan inflasi. Tapi seringkali inflasi yang dipake buat menentukan SBU itu beda dengan inflasi yang ada di lapangan. Jadi misalnya itung-itung beli konsumsi pake SBU diperkirakan butuh dana 20, padahal di lapangan dana konsumsi tuh butuh 30. Otomatis kurang dong? Nah dari sinilah seringkali korupsi muncul. Kekurangan 10 buat konsumsi itu diambil dari pos lain, misalnya pos transport atau apalah. Pokoknya ilustrasinya begitu deh. Jadi dari ilustrasi di atas kan yang salah tuh sistem SBU nya yang masih jaman jahiliah.

Jadi kesimpulannya, memberantas korupsi tuh harus dari sisi sistem sama orangnya. Kalo sistemnya doang atau orangnya doang mah ga bakal bisa. Emang butuh reformasi administrasi besar-besaran. Btw, dosen PIAN gue yang jelasin ini pinternya naudzubillah deh. Dari cara ngomongnya itu loh. Terus kata senior juga gitu. Padahal masih muda, paling 30 sekian. Terus, mukanya ga ganteng-ganteng amat sih, tapi juga ga bisa dibilang jelek #ups 
Tapi (masih) kata senior, dia itu idealis dan perfeksionis. Bagian horornya : pelit nilai. Jleb

3. Alay dan Antropologi
Gue ngakak parah waktu kelas pengantar antrop. Judul bab hari itu tuh ngomongin bahasa. Tapi gue bingung kenapa dosen gue malah nanya-nanya soal alay. Pembukaannya, beliau ngomongin bahasa prokem waktu jaman beliau kuliah. Bahasa prokem itu bahasa yang dipake preman. Jadi mereka pake bahasa ini sebagai identitas dan supaya orang yang non-preman gatau apa yang mereka omongin. Pokoknya cara ngomongnya itu diselipin sisipan "ok" di tiap kata yang mereka omongin. 
Terus beliau nanya soal alay. Letak kelucuannya adalah ketika dosennya membahas alay dalam sisi yang ilmiah. Beliau itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan ilmiah seputar alay ke mahasiswanya, kaya :
- "Siapa pemegang kebudayaan alay?" 
- "Masyarakat yang seperti apa yang dikategorikan sebagai bagian dari kebudayaan alay?"
- "Bagaimana kebudayaan alay ini dapat muncul?"
- "Bagaimana seseorang atau masyarakat yang memegang kebudayaan alay itu didefinisikan oleh orang lain?"
- "Bagaimana pemegang kebudayaan alay mendefinisikan dirinya?"
- "Sebenarnya, kebudayaan alay yang dianut oleh sebagian masyarakat ini postif atau tidak?"
- "Darimana kata Alay itu sendiri berasal?Maknanya sendiri sebenarnya apa?"
- " Mengapa budaya yang dilakukan oleh masyarakat yang dicap alay oleh masyarakat lainnya itu dikatakan alay?"

Dari pertanyaan itu, kita sekelas jadi mikir. Ternyata, kita yang mungkin merasa tau banget "Alay" itu seperti apa, rasanya jadi gatau apa-apa kalo ditanya pertanyaan begini.
Malah temen gue bilang, alay itu berupa siklus. Ga ada patokan sesuatu hal itu dikatakan alay. Kaya foto dengan pose "sst" atau rambut ala polem yang sekarang dibilang alay. Dulu tuh itu ngehits banget, gatau kenapa sekarang itu dibilang alay. 
Jangan-jangan entah 5 atau 10 tahun lagi, hal-hal yang lagi trend sekarang kaya selca, foto diedit-edit, hijab ala hijabers atau potongan rambut yang tipis dipinggir dan tebel di tengah itu bakal dibilang alay juga......?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tokoh-Tokoh yang Menyebarkan Islam di Indonesia

Regen Oh Regen

Tips Magang Ala-Ala