She is an Introvert

Baca di tumblr, katanya : The most brilliant writers, I believe, write from a sense of urgency.

Ya, gue kalo nulis selalu karena gemes sama sesuatu. Tapi saya tidak mengklaim sebagai brilliant writer kok...... Oke ini intermezzo aja, karena saya bingung mau pake prolog apaan.

Yang mau gue sampaikan kali ini juga urgent. Penting untuk membuka perspektif akan sesuatu, juga penting untuk mem-plong-kan hati saya yang lagi "keuheul".

Ada sosok penyendiri di antara orang-orang yang sedang bergumul. Ada sosok pendiam di antara sekelompok orang yang sedang berinteraksi. Ada sosok yang terlihat serius di tengah keadaan yang tenang. Ada juga sosok yang terlihat acuh di tengah suasana yang tegang. Sosok ini berbeda,tak seperti kebanyakan orang. Namun ia bukanlah pemalu ataupun seorang yang berpenyakit ,  tetapi ia justru sedang memerhatikan. Ia senang menganalisa keadaan. Ia seorang Introvert.  ----- sumber


Yaps, gue mau membahas yang satu ini. Gue baru "sadar" kalo gue adalah seorang introvert saat matkul MPKT A semester 1 kemaren.  Abis itu mulailah searching-searching soal introvert dan tiap kali baca artikelnya pasti langsung bergumam, "Gils, gue banget ini!"

Kenapa tiba-tiba gue mau bahas soal ini?

Gue menemukan fenomena menarik. Orang lebih sering mencari-cari apa itu introvert, bagaimana sebenernya orang introvert itu, serta serba-serbi lainnya. Seolah-olah seorang introvert adalah makhluk abnormal yang perlu diselidiki eksistensinya. Bahkan waktu semester 1, ada teman gue yang dengan gamblangnya bilang, "Gimana caranya ngubah orang introvert jadi ekstrovert?".
Lu kira introvert tuh kaya orang murtad yang perlu dikembalikan ke jalan yang benar? Kenapa juga harus berubah dari introvert jadi ekstrovert?

Dari pencarian gue, gue menyimpulkan kalo introvert dan ekstrovert adalah 2 kepribadian manusia yang setara. Mereka bukan sesuatu yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya. Tiap manusia punya sisi ekstrovert dan introvert, namun hanya salah satunya yang dominan. Intinya, bukanlah suatu dosa ketika lo menjadi ekstrovert atau introvert.

Sebagai seorang introvert, gue sering merasakan orang men-cap gue. Hmm, bukan cap sih, tapi setidaknya gue tau bagaimana orang memandang gue, terutama first impression mereka terhadap gue. Mereka pasti bakal bilang gue jutek dan terkesan cuek, ga peduli sama keadaan. Lebih parah lagi mereka bakal berpikir bahwa gue ansos karena cuma dengerin mereka ngomong tanpa ngasih feedback. Fortunately,I don't hold a grudge, saya sih santai aja kek di pantai. Tapi yaa saya tetap punya penilaian tersendiri terhadap orang yang pernah bikin saya keuheul nyahaha~

Biar gue jabarkan makna dibalik sikap gue sebagai seorang introvert.

Pertama, introvert adalah suatu karakter yang cenderung "dalam". Kenapa gue seringkali cuma dengerin orang ngomong tapi minim feedback? Sebenernya ada 2 dan emang cuma 2 alasan sih.

Pertama, sebagai introvert, gue lebih menyukai percakapan yang dalam, padat, dan informatif bagi gue, bukan sekedar basa-basi. Intinya, gue baru nyamber kalo emang topik pembicaraannya adalah sesuatu yang gue minati. Contoh, gue lebih suka membahas kisruh antara KPK-Polri dibanding rutinitas gue selama sehari kemarin. Bagi gue, kisruh KPK-Polri lebih menarik untuk dibahas daripada sekedar nanyain kemaren gue ngapain aja.
Ini juga jadi alasan kenapa gue gabisa basa-basi, karena kebanyakan percakapan basa-basi adalah percakapan yang cenderung bisa dilontarkan ke semua orang dan sifatnya hanya mengisi kekosongan. Jawabannya itu kurang "mendalam". Ga paham? Oke, gue contohin lagi.

Bayangin lo janjian di sebuah mall sama 4 orang temen lo, tapi yang bener-bener deket sama lo cuma 1 orang. Pas lo dateng, ternyata temen deket lo itu belum dateng. Jadilah lo berhadapan dengan 3 orang yang masih awkward. Biasanya, dalam kondisi begini orang akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan basa-basi kayak : jurusan apa, rumah dimana, kenal sama si A darimana, udah berapa lama temenan sama si A, udah pernah ke mall ini apa belum, dll.

Nah, that's what I can't stand. Nanya pertanyaan yang sifatnya mengisi kekosongan. Kalo dalam kondisi begitu, gue maunya nanya 1 pertanyaan tapi dengan penjabaran panjang daripada banyak pertanyaan dengan jawaban singkat-singkat. Tapi, masalahnya ga semua orang bisa dilempar pertanyaan macam gitu. Ga mungkin juga gue ngomongin kisruh KPK-Polri gitu aja ke orang yang masih awkward sama gue dan gue juga gatau tuh orang demen masalah gituan apa kaga. Makanya, gue lebih memilih diam.

Gimana kalo ternyata lo membicarakan topik yang gue anggap menarik tapi gue masih tetep diem?
Berarti yang kedua : Gue masih menganggap elu sebagai orang asing. Honestly, alasan ini lebih sering terjadi sih dalam kasus gue hahaha.

Sosok introvert ga terlalu suka dalam sebuah keramaian, dimana disitu banyak orang tapi ga semua orangnya lu kenal. Introvert lebih suka pertemanan yang "berkualitas" daripada kuantitas. Otomatis, gue ga bakal sembarang nyamber karena lo masih "orang asing" bagi gue. Gue tipe yang mikir dulu baru ngomong. Apalagi ketika berhadapan dengan "orang asing", penjagaan gue dalam bicara pasti bakalan dua kali lipat.

Untuk naik dari level "orang asing" ke level "bukan orang asing" versi gue juga ga instan. Biasanya, orang yang gue labelin "bukan orang asing" tuh yang udah cukup lama kenal gue dan interaksinya intens sama gue.
Gue sempet melakukan survey kecil-kecilan, dan hasilnya sesuai ekspektasi sih. Temen deket gue semasa SMA sampe sekarang mengatakan gue kalem, tapi sekalinya ngomong berbobot dan bukan "sampah".  Sementara peer group gue sekarang bilang gue kalem, udah.

Begitulah pendapat mereka ke gue dan perlakuan gue ke mereka pun terbukti sesuai dengan anggapan mereka ke gue, bahkan sebelum survey kecil-kecilan ini gue lakuin. Gue lebih terbuka sama temen SMA gue, sampe hal sensitif yang suka mengganjal gue pun bakal gue ceritain ke mereka. Sementara, ke temen kuliah sekarang emang kita suka hangout bareng, tapi belum sampai tahapan gue mau open semua-muanya ke mereka. Even nyokap gue udah meninggal sejak SMA aja gue gabilang ke mereka. Bukan nyembunyiin, tapi emang gue bingung juga kenapa harus tiba-tiba ngomongin itu ke mereka.

Intinya, gue memetakan orang-orang yang gue kenal ke dalam tingkatan-tingkatan hahaha. Kalo lu merasa gue minim ngomong ke elu, berarti elu masih di tingkatan "orang asing" wkwk karena sebenernya gue cukup  sering dan suka ngomong, apalagi ketika menjabarkan sesuatu yang gue minati. Waktu SMA aja pernah psikotes dan nilai penalaran verbal gue 18 dari 20. *pamer dikit*
Tapi, biarpun gue bilang gue lebih suka percakapan mendalam, bukan berarti gue gabisa bercanda. Nah tapi itu tadi, becandaan gue ga available buat semua orang. Sok eksklusif banget emang, tapi yaa itulah saya :))

Meskipun ada berbagai anggapan tentang gue sebagai orang yang introvert, tapi gue bangga dan senang enjadi seorang introvert. Gue paham apa kelebihan gue sebagai introvert dan bagaimana menggunakannya. Kebetulan self-smart gue juga tertinggi setelah word-smart gue nyahaha~

Orang introvert tuh lebih peka, serius deh. Percaya atau engga, gue bisa ngafalin nama panjang temen sekelas dalam waktu kurang dari 2 minggu. Itu udah dari SD deh kayanya. Gue juga cepet nginget muka orang. Gue juga inget special feature dari seseorang, misalnya si A suka pake jam tangan ini, sepatu si B yang kaya begini, si C botol minumnya begini, dll. Ini bukan karena daya ingat gue tinggi, cuma karena orang introvert lebih sering  mengamati makanya mereka lebih inget. Jadi kalo gue diem itu bukan karena blank atau apaan, tapi karena sibuk mengamati sekitar. Orang ekstrovert biasanya susah nginget orang karena energi mereka keserap buat ngomong sehingga cenderung ga inget sama orang yang "ga menarik" attention mereka. Gue bilang gini based on pengamatan terhadap beberapa orang ekstrovert di sekitar gue.

Kedua, introvert itu pendengar yang baik. Gue pribadi menganggap proses "mendengarkan" adalah salah satu cara memperoleh pengetahuan. Seringkali gue inget hal-hal mendetail tentang temen gue, padahal gue ga kepoin dia. Setiap seseorang bicara, gue bener-bener pay attention sama dia, sehingga hal-hal "sepele" yang sebenernya bukan poin utama cerita dia pun bisa gue inget. Gue jadi inget kata temen gue yang bilang kalo otak manusia punya self defense untuk melupakan hal yang dia anggap ga menarik atau mengingat hal yang dia anggap menarik.

Next, introvert itu hmmm.... menurut gue ga terlalu mikirin gimana pandangan orang, dalam beberapa konteks tertentu. Jadi kadar kebahagiaan dan kenyamanan mereka engga diukur dari pengakuan orang atas diri lo, tapi murni datang dari dalam diri lo sendiri. Gue ga merasa masalah kalo harus kemana-mana sendiri, ikut kegiatan apa-apa juga sendiri aja. Ga ada orang yang sepemikiran atau sependapat sama gue bukan jadi halangan bagi gue untuk ikutan ini-itu. Kalo orang bilang gue forever alone ya terserah, toh gue nyaman dengan kesendirian gue. Apalah artinya lo dikerubungin banyak orang tapi tetep merasa kosong atau merasa something's missing? #ceilah

Misalnya kalo belanja sama orang, gue harus mempertimbangkan kehadiran dia kek nyari obrolan, mikirin dia mau ke toko mana, mau beli apa, dll. Menurut gue itu cukup disturbing haha jadi gue lebih seneng sendirian aja. Tapi sekali lagi, kalo jalan sama orang yang "bukan orang asing" itu beda lagi kasusnya...Intinya, kalo seseorang sudah gue kategorikan "bukan orang asing", gue pasti terbuka dan jujur banget sama dia.

Sebenernya masih banyak yang pengen gue sampaikan, tapii pemetaan ide di kepala gue udah buyar gegara post ini udah jadi draft beberapa kali dan akhirnya gue....lupa mehehehe. Kalimat penutupnya apa yaa..... yang jelas sih, don't judge a book by its cover. Dunia itu luas men, jangan terkungkung sama satu sudut pandang pemikiran aja. Teruuus yaa... watch your mouth. Kamu ga pernah tahu bagaimana membekasnya kata-kata kamu di hati orang kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tokoh-Tokoh yang Menyebarkan Islam di Indonesia

Tips Magang Ala-Ala

Promosi Jurusan