Jadi, Harus Hormati Siapa?

Gue lagi bikin makalah KN, tapi keganggu banget sama hal ini. Aaaak senin 10.59 deadlinenya Mirunaa, baru ngerjain 6 dari 20 halaman. Tapi gue gabisa konsen ngerjain kalo belum menulis soal ini. Jadi mari segera selesaikan dulu ke-gemes-an gue biar ga mengganjal makalah KN gue #naon

Sebelumnya gue copy dulu pendapatnya Tere Liye soal ini :

"12 tahun silam, saat saya baru lulus kuliah, saya sudah menemukan konsep baru yang sangat membingungkan ini: Orang2 berpuasa diminta menghormati orang2 yang tidak berpuasa. Maka, saat ramadhan datang, apa salahnya jika tempat2 hiburan tetap buka, rumah makan tetap beroperasi penuh, dsbgnya. Apa salahnya jika klub malam tetap beroperasi. Toh, mereka juga mencari makan, nafkah dari bisnis mereka.
Saya membaca tulisan itu di milist (jaman itu belum ada media sosial). Saya masih muda, masih tidak berpengalaman. Saat membaca tulisan tersebut, aduhai, isinya masuk akal sekali. Benar loh, kan kita berpuasa itu disuruh menahan diri, agar jadi lebih baik, masa’ kita akan tergoda saat melihat warung buka, masa’ kita akan tergoda saat melihat tempat hiburan ada di mana2? Full beroperasi. Kalau masih, berarti puasa kita nggak oke. Itu logika yang masuk akal sekali. Tapi saya bersyukur, saya tidak pernah membiarkan “logika” sendirian saat menentukan prinsip2 yang akan saya gigit. Saya selalu memberikan kesempatan mendengarkan pendapat lain.
Baik. Itu mungkin masuk akal, orang2 berpuasa disuruh menghormati orang2 tidak berpuasa, tapi di mana poinnya? Apakah orang2 yang berpuasa mengganggu kemaslahatan hidup orang2 tidak berpuasa? Apakah orang2 berpuasa ini punya potensi merusak? Sehingga harus ada tulisan, himbauan, pernyataan: kalian yang puasa, hormatilah orang yang tidak berpuasa. No way, man, itu logika yang bablas sekali. Saya tahu, ada banyak razia penuh kekerasan dilakukan kelompok tertentu atas tempat2 hiburan, warung2, dll. Tapi itu bukan cerminan kelompok besar muslim di negeri ini. Kelompok besarnya, bahkan tidak suka dengan cara2 penuh kekerasan ini, pun tidak suka dengan kelompok ini.
Lantas siapa yang seharusnya menghormati?
Default dalam situasi ini adalah: ingatlah baik2, ramadhan itu sudah ribuan tahun usianya, 1.434 tahun tepatnya. Bahkan perintah shaum, itu hampir seusia manusia di bumi ini, agama2 terdahulu juga memilikinya. Kalau itu sebuah tradisi, maka dia lebih tua dibanding tradisi apapun yang kalian kenal, silahkan sebut tradisinya, puasa lebih tua. Maka, tidak pantas, manusia yang usianya paling rata2 hanya 60 tahun, tiba2 mengkritisi puasa, memandangnya sebagai sesuatu yang artifisial, tidak penting, dsbgnya. Ramadhan adalah bulan paling penting dalam agama Islam, jelas sekali posisinya.
Sama dengan sebuah komplek, itu komplek sudah 1.434 tahun punya tradisi tidak boleh memelihara hewan peliharaan. Kemudian datanglah keluarga baru, membawa hewan yang berisik sekali setiap malam. Siapa yang disuruh menghormati? Wow, warga satu komplek yang disuruh menghormati keluarga dengan hewan berisik? Demi alasan egaliter, HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya. Kalian tahu, ketika orang2 tidak punya argumen substantif dalam hidup ini, maka senjata mereka memang hanya itu: kebebasan. Amunisi paling mudah saat melawan agama adalah: kebebasan. *THIS! Can't deny nor disagree anymore* Hingga lupa, siapa sih yang over sekali menyikapi situasi ini?
Karena sejatinya, tidak ada pula yang menyuruh warung2 full tutup, warung2 makan cukup diberikan tirai saat bulan Ramadhan, semua baik2 saja. Itu lebih dari cukup. Lantas soal klub malam? Diskotik? Tempat2 menjual minuman keras? Kalian punya 11 bulan untuk melakukannya, diminta libur sebulan, apa susahnya? 11 bulan orang lain menghormati kalian melakukannya, maka tiba giliran 1 bulan, apa susahnya mengalah? Tidak perlu sampai ribut, sampai berantem, sampai dirazia, cukup kesadaran diri saja. Tidak ada yang meminta kalian tutup 12 bulan.
Kusutnya masalah ini, kadang yang mengotot sekali justeru sebenarnya beragam Islam *sedih ga siih brooo*. Orang2 yang beragama lain, sudah otomatis menyesuaikan diri. Saya punya banyak teman2 non Islam, saat mereka makan siang, mereka dengan sangat respek minta ijin, bisa menempatkan diri dengan baik. Hampir semua agama itu punya ibadah yang harus dihormati. Di Bali misalnya, saat Nyepi, mau agama apapun, semua orang diminta menghormati Nyepi. Tidak ada alasan: kebebasan, boleh dong saya hura2 saat Nyepi.
Saya tahu, silahkan saja jika kalian tetap punya tapi, tapi dan tapi. Saya hanya mengingatkan: sekali orang2 mulai terbiasa membalik2 logika, dalam urusan ini, hanya soal waktu, besok lusa akan ada yang bilang: adzan di masjid itu mengganggu. Kemudian orang2 akan mengangguk, mengamini, benar juga ya, kenapa harus teriak2 sih adzannya? Kenapa harus pakai speaker? Kan bisa pakai SMS, miskol, dll. Itu pemeluk agama Islam kok bego banget, tidak tahu teknologi.

Saat itu terjadi, maka silahkan tanggung dosanya, wahai kalian, orang2 yang bangga sekali dengan logika hidupnya. Bangga sekali dengan kepintarannya berdebat, kalian –mungkin tanpa menyadarinya– telah memulai menggelindingkan bola salju agar orang2 lain mulai meninggalkan agamanya.
Terakhir, ada jutaan anak2 kami yang baru belajar puasa ramadhan ini, saat mereka pulang sekolah TK, SD, saat mereka habis2an menahan haus dan lapar, maka jika kalian yang keblinger sekali pintarnya tidak bisa melihat mozaik besar ramadhan, maka lihatlah anak2 ini, mereka sedang berusaha taat melaksanakan perintah agama–bahkan saat mereka belum tahu-menahu. Hormatilah anak2 kami ini. Jangan suruh mereka menghormati orang2 yang tidak berpuasa."

Nah, udah tau yak apa yang bikin gue gemes. Saking gemesnya, gue sebut merek aja kalo hal ini dikomporin sama Menteri Agama kita sendiri. Yak azab kubur amatlah pedih bung! Suka-suka ngana aja mau ngomong apa~
Kalo mau adu logika soal ini, mari gue sodorkan sebuah kasus :

Kalo ada penyandang disabilitas, katakanlah tuna netra, yang harus menghormati siapa? Si penyandang tuna netra atau orang non tuna netra? Yang non dong ya, kan tuna netra yang berkebutuhan khusus. Jadi misalkan di depan lo ada tuna netra jalannya pelaaaan banget, ga berhak marah dong lau? Udah tau kan kondisinya? Ke-spesialan dia yang membuat dia begitu, lu gabisa marah-marah dong? Masa iya lu mau nyalahin dia tuna netra jadinya ngalangin jalan?

Bukankah logika-nya sama? Anggap aja orang yang berpuasa juga berkebutuhan khusus. "Khusus" di sini dalam artian umat muslim tengah menyongsong suatu bulan yang khusus bagi mereka, dengan ibadah-ibadah khusus yang harus dilakukan juga. Mau nyalahin orang puasa? Kenapa menyalahkan sesuatu yang sudah menjadi jalan hidup seseorang? Bagi orang muslim (yang paham), agama bukan sekedar ritual, tapi way of life, jalan hidup. Penting kan? Itu sama kaya dengan hukum alam di kasus tuna netra di atas. Udah dari sananya, mau diapain? Sama hal-nya kaya orang muslim. Udah dari sananya hati terpaut sama jalan hidup ini, mau diapain? *ceilah*

Terus, soal restoran. Emang siapa yang nyuruh restoran tutup? Cuma minta pake tirai kok. Apa susahnya pake tirai buat nutupin? Apakah itu bisa mempengaruhi produktivitas restoran? Menurunkan omset?  Meskipun ga ada yang menghimbau atau aturan yang nyuruh pake tirai, menurut gue itu salah satu bentuk etika terhadap muslim yang sedang berpuasa. Sama halnya kaya lu bantuin tuna netra buat nyebrang. Gada aturan yang mewajibkan bantuin tuna netra nyebrang kan? Tapi itu sesuatu yang manis dan indah bila dilakukan. Itu suatu bentuk penghormatan lu sama tuna netra. Lu memahami ke-spesialan dia, makanya bantuin dia nyebrang karena dia memang butuh dibantu. Atau yang lebih mudah dipahami, kalo misalnya gue kebetulan lagi puasa sunnah terus gue ikutan ke kantin sama temen-temen gue. Gue dari lubuk hati terdalam ga keberatan duduk bareng mereka yang lagi makan, tapi alangkah lebih baiknya mereka mengatakan sepatah dua patah kata permintaan maaf atau sekedar permisi, atau apaan gitu. Kan enak liatnya.
Itu etika, yang sebenernya ga ada hubungannya mau lu agama, suku, bangsa, ras apapun sih. Selama elu manusia, harusnya punya etika. Itu yang bedain manusia sama hewan selain akalnya kan?

Terus gue mau komen soal thread di kaskus yang judulnya : "Punya Iman Kok Manja Banget"
Isinya........  gue mau geleng-geleng dulu sih. Pertama, mau curhat dulu. Kadang tuh ya, gue suka mikir, apakah islam yang gue anut ini sudah benar seperti yang dulu diturunkan pertama kali? Maksudnya gini loh. Agama islam itu kan udah lama banget ya, 1400 tahun yang lalu tjoy, jadi pasti peluang-peluang penyimpangan dari yang aslinya tuh bakal ada kan? Tapi Allah udah janji sih kalau bakal menjaga agama ini. Tapi kan disitu letak kesulitannya, menemukan jalan yang beneran di antara jalan-jalan lain yang gatau ujungnya bakal kemana. Duh gue kesulitan mengungkapkan pikiran gue....

Intinya gini, kadang lu suka ga sih mempertanyakan apakah pemikiran lu soal islam selama ini sudah benar? Apakah islam yang elu jalankan saat ini adalah islam yang kaya dulu pertama kali diturunkan atau lu ngikutin islam yang ternyata udah melenceng kemana-mana? Kan sedih kalo ternyata yang elu ikutin selama ini tuh yang salah, sementara Allah hanya menerima yang sesuai dengan sunnah rasul-Nya. Ini gue bukan ngomongin masalah aliran sesat, itusih gausah dipikirin juga udah ketauan sesat. Maksudnya semacam pemikiran misalnya : "Boleh ga sih orang non muslim jadi pemimpin di tengah-tengah kaum yang mayoritas muslim?", atau hal-hal lain yang ternyata kalo di dalil naqli nya tuh dilarang, tapi rasanya lu sulit menerima kenapa hal itu dilarang, iya ga?
Jujur gue sampai saat ini gue ga mempermasalahkan pemimpin nonis, meskipun gue tau banget dalam islam tuh menganjurkan pemimpin yang seiman. Atas dasar pengetahuan gue itu makanya gue ga pernah milih pemimpin nonis. Tapi alasan kuatnya yang bisa gue terima, gue masih belum nemu gitu loh. Dan punya pikiran-pikiran beginian jujur aja bikin gue takut. Antara takut sesat tapi gue belum menemukan alasan atau jawaban untuk menafikan pikiran tersebut. Bingung ga?

Terus hubungannya sama thread kaskus apaan? Yaa jadi gue bingung aja sama yang nulis, emangnya dia ga pernah punya pemikiran kaya gue gitu ya? Antara takut pemikiran dia itu sebenernya salah karena masih fakir ilmu. Tapi udah nulis serasa dia udah paling tau aja. Gue berani jamin dia pasti ga pernah ikut mentoring. Kalo inget kata asdos gue, yang namanya berargumen tuh harus apple to apple. Bandingin yang sebanding, jangan berargumen kalo lu aja belum pernah mendalami, apalagi ini menyangkut way of life jutaan orang di luar sana, yang pengikutnya aja banyak yang belum paham.


Satu lagi nih, sedih aja sama orang muslim jaman sekarang. Kaya ga ada rasa cemburu-nya gitu sama Islam. Maksud gue gini, ketika ada aturan-aturan yang mendukung agama islam kaya pembatasan jual miras, jilbab untuk polwan/TNI, dll, LOGIKANYA sebagai seorang muslim, di luar apapun, reaksi pertama yang otomatis tiba-tiba refleks gitu aja harusnya lu seneng dong? Lah way of life elu tuh diaplikasiin loh... Tapi ini kenapa malah banyak penolakan justru dari muslimnya sendiri? Cibiran-cibiran datang dari muslimnya sendiri? Coba dipikirin dah sama kalian-kalian. Kadang suka merasa lu abnormal ga sih kalo menolak atau sinis sama way of life lo sendiri? Kenapa ga mengarah ke rasa penasaran "Apakah emang kita-nya yang ga paham?" Kenapa nyalahin agamanya gitu loh. Agamanya udah dari sononya kaya gitu dan akan terus dijaga seperti itu oleh pemilik-Nya. Yang patut dipertanyakan bukankah diri kitanya yang kenapa ga paham dan menolak untuk paham? 

Ketika kita bilang, "Ih gue gamau Islam yang gitu-gitu amat", pernah kepikiran ga sih gimana kalo ternyata Islam yang kita gamauin tuh ternyata yang benar? Jadi selama ini kita masih salah atau kurang tepat dalam mengamalkan Islam. Dulu gue pernah mikir gitu, gamau jilbab lebar-lebar, gamau jaga pandangan, gamau ini-itu yang disuruh, tapi alhamdulillah ya lama-lama sadar kalo yang blablabla gue gamau itu ternyata yang benar. Memang belum seutuhnya sadar, tapi lagi proses kok. Kadang bukan kita ga bisa, tapi memang kitanya yang gamau  :) Dan gamau itu cuma bisa ditangani dengan berusaha untuk mau. 

Balik ke topik awal, kalo ngomongin "Ngapain tempat maksiat, miras dll serba dibatasi, dibikin aturan? Itu sih orang islamnya aja yang ga bener. Orang islam yang bener tuh yang liat miras, maksiat, dll langsung ngehindar. Gausah pake aturan segala"
Masalahnya, pake aturan aja masih banyak yang ngelanggar, gimana ga pake? Pake aturan aja SEANCUR ITU, gimana ga pake? Mau SEANCUR apalagi? Bukan masalah ego sektoral, bukan masalah di islam miras tuh haram makanya miras dibatasi. Kita semua bukankah SAMA-SAMA TAHU dampak miras tuh apa? Ga perlu gue jabarin kan kerusakan apa aja yang diakibatkan miras? Kalo yang saling bunuh, ngerampok, memperkosa, tawuran sampe bego gara-gara miras berkurang atau bahkan menghilang, apakah CUMA umat islam yang diuntungkan oleh hal tersebut?

Begitu juga dengan tempat maksiat, prostitusi, dll. Degradasi moral di Indonesia udah SEPARAH ITU loh, masih nyangkal tempat-tempat kaya gitu bukan penyebabnya? Masih ngerasa tempat maksiat, prostitusi, dll itu ga harus dikontrol? Ga geli apa liat berita anak SMP hamil tapi bingung bapaknya siapa? Masya allah gue merinding tau ga bacanya.... Atau prostitusi artis? Lha katanya artis "public figure"? Ya jangan aneh kalo perbuatan terkutuk nan hina itu merajalela, lah "public figure"-nya aja nyontohin.  Emang yang geli sama berita-berita gituan orang islam aja? Yang geleng-geleng sama berita gituan cuma orang islam? Engga kan? DEGRADASI MORAL ITU MASALAH BERSAMA!
Mau nunggu hujan batu kaya jaman Nabi Luth dulu baru pada sadar?
Ternyata agama jadi pemicu paling gampang untuk memecah belah Indonesia yah :")

Sepertinya post ini jadi punya banyak ide utama. Intinya sih ya, gue sedih aja kalo umat islam (ga semua kok, alhamdulillah) saat ini seolah-olah seperti bodo amat sama agamanya. Agamanya dijelekin diem, agamanya ditegakin malah ngeledek. Aneh aja gitu loh, maunya apa si. Tapi disuruh murtad pada gamau kan? Kalo gitu apa bedanya sama orang murtad coba...

Komentar

Jennie595 mengatakan…
gampang bgt yak mecahin penduduk indonesia, dikasih isu separagraf aja langsung kebakaran haha

Postingan populer dari blog ini

Tokoh-Tokoh yang Menyebarkan Islam di Indonesia

Tips Magang Ala-Ala

Promosi Jurusan