Fantasizing


Kalau dulu percakapannya kaya gini, mungkin ceritanya ga kaya sekarang :)


--------------------------------------------------------------------------------------------------

Gamau

Emang kenapa?

Saya punya perencanaan lain

Emang perencanaan apasih?

Ya ada lah. Saya sudah bikin plan sejak setahun lalu.
Pertama mau magang (beneran, bukan sekedar menuhin 3 sks ) di Pemkot Bogor sambil nyari masalah buat dibikin skripsi. Alangkah baiknya skripsi saya itu bisa jadi solusi misalnya buat masalah di Pemkot Bogor, kan lumayan. Meskipun saya selalu mengklaim mau lulus normal aja, tapi jika mampu menciptakan waktu dan keadaan agar berkonspirasi mendukung saya lulus 3,5 tahun, why not? Setidaknya itu dapat menjadi salah satu bentuk bakti terkecil yang bisa saya lakukan sekarang buat keluarga. Saya bermindset lulus 3,5 tahun sama aja kaya lulus 4 tahun, tapi keluarga masih menganggap lulus 3,5 tahun adalah sesuatu yang bisa dibanggakan.

Dua, mau PP aja Depok-Bogor. Waktunya menyelesaikan urusan di rumah dan mulai lebih peka sama society di kampung halaman. “Terjun” ke society adalah suatu langkah kecil untuk memulai kesana. Itu menurut saya sih.

Tiga, mau kembali ke sekolah aja. Ketemu sama anak-anak SMA  yang masih polos dan lebih gampang di-brainwash. Meskipun simple, sekedar “mem-brainwash” anak SMA, tapi efeknya lebih terlihat menurut saya ketimbang disana. Sudah cukup merasakan dinamika disana. Saya merasa lebih bermanfaat ketika berhasil “meracuni” anak-anak itu karena sudah lihat impactnya yang lebih luas dan lebih berkesinambungan.

Empat,mau daftar Samaba, magang di rektorat/fakultas, jadi pengawas SIMAK, jadi fasilitator OBM, ngentri data maba, dll yang berkaitan dengan kemahasiswaan. Selain emang seneng, saya mau belajar bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cara selain ngerjain verbatim. Bosen. Sebenarnya maunya masih berkecimpung di dunia ini, tapi iklim di sana tidak mendukung jadinya yaa gabisa. Akhirnya mau langsung aja ke tingkat univ. Jadi staf ga masalah, karena saya emang seneng sama ginian dan lebih seneng ngerjain ginian daripada itu, to be honest.

Lima, mau gabung sama komunitas sosial yang di luar kampus. Mau daftar komunitas peduli anak jalanan di Bogor yang kegiatannya biasanya di Terminal Baranangsiang.

Enam, mau bisnis sama temen-temen. Ga jauh-jauh sih, paling jilbab sama baju. Tapi beneran pengen diseriusin karena setelah menyamakan persepsi dengan teman-teman, kami se-frekuensi untuk menjalankan bisnis ini. Semangatnya bukan biar dapet duit, tapi tiga sampai lima tahun lagi bisa mempekerjakan orang.

Poin 4-6 sebenernya bisa nyambi, tapi untuk 1-3 menurut saya gabisa dibantah. Mutlak harus lebih banyak menghabiskan waktu di Bogor.

Terus ngomong apa gitu, panjang. Saking panjangnya saya lupa. Tapi sekilas inget intinya apa. Izinkan saya mengungkapkan pembelaan kalo saya memilih keras waktu itu:

Kalo gitu, kenapa baru bilang sekarang? 
Kenapa ga bilang dari jauh-jauh hari? Bukannya sudah terlihat kalau saya emang ga ada itikad untuk meneruskan? Saya bahkan ga pernah memulai membicarakan masalah ini dengan anda kan? Terus anda nunggu apaan makanya baru bilang sekarang? Nunggu saya ngomong duluan? Ga mungkin lah saya akan ngomongin ini karena emang ga ada niat buat ngomongin ini.

Saya BISA mengukur saya mampu atau engga. Murni bukan sesimpel karena ga pede padahal mampu. Bisa tanya kadar kepedean saya masalah ginian ke temen saya tuh segimana ketika saya merasa mampu. Silakan minta testimoni juga kadar objektivitas dan rasionalitas saya dalam memikirkan sesuatu tuh gimana. Saya merasa ga mampu dan ga mau, makanya ga pernah ngomongin ginian.

Gimana rasanya saya yang udah setaun mikirin mau ngapain tiba-tiba dihadapkan pada opsi ini? Segampang itu bilang ya terusin aja rencana saya. Emangnya semudah itu? Semudah itu narik jangkar yang sudah dilempar ke laut?
Saya realistis kalo saya ga mampu menjalankan rencana 1-6 saya sambil ngelakuin itu. Saya sudah melihat kalau jadi itu tuh pasti mau ga mau akan dijadikan prioritas utama, meskipun awalnya berniat untuk tidak menjadikannya sebagai prioritas utama. Kalo ga jadi prioritas, pasti jatuhnya melalaikan kewajiban dan ga bakal jalan. Saya mengamati itu selama dua tahun ini.

Kalau semuanya ngikutin keinginan, bisa kacau……..

Everyone has their own interests, dan saya bukan saint yang akan selalu mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan saya sendiri. 
Yeah, I admit it, I’m being real. Karena kepentingan saya pun dilatarbelakangi dan terpengaruh oleh significant other saya. Sebab akibat kebutuhan, keinginan, pertimbangan, alasan, hingga keputusan saya gabisa lepas dari significant other saya. Saya tidak bisa menafikan hal tersebut sehingga apapun yang menjadi keputusan saya pasti berimplikasi pada mereka. Gabisa sesimpel itu mengubah keputusan karena dampaknya panjang.

Anda bilang anda juga sempet ragu, sebenarnya itu memperkuat argumen saya kan? Engga, saya engga baper karena diragukan oleh anda karena saya sendiri aja emang merasa ga mampu. Kalo anda memang yakin saya mampu mungkin anda yang akan memulai percakapan ini dari awal sejak jauh-jauh hari. Namun anda pun baru dapat meyakinkan diri anda untuk bilang ke saya sekarang, dan rupanya itu tidak makan waktu yang sebentar. Sebenarnya itu sudah menjelaskan banyak hal secara implisit.

Itu butuh kamu, kita mah apa kalo ga ada kamu…..

Honestly I’m sick of this kind of sentence. You know it so well, It can get many talented and potential person easily. So fake. You may finding a better person…

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Waktu itu saya memilih untuk menghindari percakapan ini. So here I am~ :)

As an epilogue, from my friend’s tumblr :

"I have many colors depend on what situation I’m on and who i’m dealing with. That happen in friendship as well, the ones I share blue most likely won’t understand me when I’m being yellow. Those who usually see me as white won’t accept the black me. It’s just almost impossible to find someone who’d accept all your colors."

So do I. I usually show you the white of me, angelic’s side of me. But don’t think of me as an angel. Because even devil may disguise as an angel, who knows?
 .
.
.
Saya adalah orang yang susah-bilang-tidak. Kemudian, terpikirkan sesuatu-kah ? :)

Komentar

Jennie595 mengatakan…
kok gue bacanya kek semacem fit and proper test gt ya mir?
suka bagian terakhirnyaaa <3
Dewi mengatakan…
Wkwk kayanya tagu iti quotes dari tumblr siapa haha tambahin nama dong mi biar gw ngeksis d blog lu #canda

Yg gw tangkep d sni lu lg berkutat being asertif ya? Find it hard to say no because they use ultimate weapon 'because we need you here'?

Ntr seiring wktu bakal makin srg nemuin yg kaya gini kok mir. This is what growing up feels like :")

Postingan populer dari blog ini

Tokoh-Tokoh yang Menyebarkan Islam di Indonesia

Regen Oh Regen

Tips Magang Ala-Ala